Selasa, 26 Juli 2011

Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament

Teams-Games-Tournament (TGT),  pada mulanya dikembangkan oleh David DeVries dan Keith Edwards. Dalam model ini, para siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat sampai lima orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya diadakan turnamen, di mana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya. TGT menambahkan dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. Teman satu tim akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain, memastikan telah terjadi tanggung jawab individual (Robert E. Slavin, 2008).
Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan penguatan (reinforcement). Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif  tipe TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar (Kiranawati, 2007).
Menurut Robert E. Slavin (2008), pembelajaran kooperatif  tipe TGT terdiri dari 5 komponen utama, yaitu : presentasi di kelas, tim (kelompok),  game (permainan), turnamen (pertandingan), dan rekognisi tim (perhargaan kelompok). Prosedur pelaksanaan TGT dimulai dari aktivitas guru dalam menyampaikan pelajaran, kemudian siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya diadakan turnamen, di mana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TGT (dimodifikasi dari Robert E. Slavin) yaitu terdiri dari 5 langkah pembelajaran sebagai berikut:
1. Class-Presentation (Penyajian/Presentasi kelas) 
Pada awal pembelajaran, guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pembelajaran langsung, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game, karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2. Team (Kelompok) 
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 6 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari hasil akademik, jenis dan rasa atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game dan turnamen. Pada tahap ini siswa belajar bersama dengan anggota kelompoknya untuk menyelesaikan tugas dan soal yang diberikan. Siswa diberikan kebebasan untuk belajar bersama dan saling membantu dengan teman dalam kelompok untuk mendalami materi pelajaran. Selama belajar kelompok, guru berperan sebagai fasilitator dengan mengarahkan siswa yang mengalami kesulitan dalam penyelesaian tugas, serta memandu berfungsinya kelompok belajar.
3. Game (permainan)
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor yang memuat satu pertanyaan, kemudian kelompok yang berperan sebagai pemain mencoba menjawab pertanyan yang sesuai dengan nomor itu. Setelah pembaca memberikan jawaban, siswa disebelah kiri (penantang pertama) mempunyai kesempatan untuk menantang (memberi jawaban beda) atau lewat. Jika penantang pertama lewat dan penantang kedua mempunyai jawaban berbeda maka penantang kedua boleh memberi tantangan. Jika semua siswa telah menjawab, menantang atau lewat penantang kedua (sebelah kanan pembaca) mencocokkan jawabanya pada kunci jawaban yang sesuai dan membacanya keras-keras. Pemain yang menjawab benar dapat menyimpan kartu tersebut. Dan jika penantang pertama dan kedua salah dalam memberikan jawaban maka mereka mendapat hukuman yaitu harus mengembalikan kartu yang dimenangkan sebelumnya pada paknya. Jika tidak ada yang menjawab benar, maka kartu dikembalikan pada paknya. Untuk babak berikutnya semua pindah satu posisi ke kiri, dan penantang pertama giliran menjadi pembaca, penantang kedua menjadi penantang pertama dan pembaca menjadi penantang kedua. Permainan berjalan terus sampai waktu yang ditentukan habis atau kartunya habis. Ketika permainan berakhir, pemain mencatat jumlah kartu yang dimenangkan pada lembar pencatat skor.
4, Tournament (pertandingan/kompetisi)
Biasanya turnamen dilaksanakan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa kedalam beberapa meja turnamen. Siswa masing-masing kelompok dari tingkat akademik tertinggi sampai tingkat terendah dikelompokkan bersama siswa dari kelompok lain yang mempunyai tingkat akademik sama untuk membentuk satu kelompok turnamen yang homogen. Siswa dari masing-masing kelompok bertanding untuk menyumbangkan poin tertinggi bagi kelompoknya. Dalam turnamen ini, siswa yang memiliki kemampuan akademik sedang atau rendah dapat menjadi siswa yang mendapat poin tertinggi dalam kelompok turnamennya. Poin dari perolehan setiap anggota kelompok diakumulasikan dalam poin kelompok. Biasanya turnamen diselenggarakan akhir minggu, setelah guru membuat presentasi kelas dan kelompok-kelompok mempraktikan tugas-tugasnya. Untuk turnamen pertama guru mengelompokkan siswa dengan kemampuan serupa yang mewakili tiap timnya. Kompetisi ini merupakan sistem penilaian kemampuan perorangan dalam STAD. Kompetisi ini juga memungkinkan bagi siswa dari semua level di penampilan sebelumnya untuk memaksimalkan nilai kelompok mereka menjadi terbaik. Alur penempatan peserta turnamen menurut Slavin (1995: 86) dapat dilihat pada diagram berikut:
Diagram Alur Penempatan Peserta Turnamen
5. Team –Recognize (penghargaan kelompok)
Dalam pembelajaran kooperatif, penghargaan diberikan untuk kelompok dan bukan individu, sehingga keberhasilan kelompok ditentukan oleh keberhasilan setiap anggotanya. Penghargaan kelompok diberikan atas dasar rata-rata poin kelompok yang diperoleh dari game dan turnamen. Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing tim akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan sesuai poin yang diperoleh. Setelah mengikuti game dan turnamen, setiap kelompok akan memperoleh poin. Rata-rata poin kelompok yang diperoleh dari game dan turnamen akan digunakan sebagai penentu penghargaan kelompok. Jenis penghargaan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Penghargaan kelompok dapat berupa hadiah, sertifikat, dan sebagainya.
Berikut contoh perhitungan poin game dan turnamen dengan empat pemain menurut Slavin (1995):
Tabel Contoh Perhitungan Poin Game dan Turnamen untuk Empat Pemain
Menurut Slavin (1995: 90), penghargaan diberikan jika telah melewati kriteria sebagai berikut:
Tabel Contoh Kriteria Penentuan Penghargaan Kelompok
Secara umum pembelajaran kooperatif tipe TGT sama dengan pembelajaran kooperatif  tipe STAD. Perbedaannya adalah pada TGT menggunakan turnamen akademik, menggunakan kuis-kuis,  dan sistem skor kemajuan individu sehingga para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kemampuan akademiknya setara. Hasilnya, siswa-siswa yang berprestasi rendah pada setiap kelompok memiliki peluang yang sama untuk memperoleh poin bagi kelompoknya sebagai siswa yang berprestasi tinggi. Meskipun keanggotaan kelompok tetap sama, tetapi siswa yang mewakili kelompok untuk bertanding dapat berubah-ubah atas dasar penampilan dan prestasi masing-masing anggota. Misalnya mereka yang berprestasi rendah, yang mula-mula bertanding melawan siswa-siswa kemampuannya sama dapat bertanding melawan siswa-siswa yang berprestasi tinggi ketika mereka menjadi lebih mampu.
Adanya dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT, diharapkan siswa dapat menikmati proses pembelajaran dengan situasi yang menyenangkan dan termotivasi untuk belajar dengan giat yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat konsentrasi, kecepatan menyerap materi pelajaran, dan kematangan pemahaman terhadap sejumlah materi pelajaran sehingga hasil belajar mencapai optimal. Muflihah (2004), dalam penelitiannya yang telah dilakukan menunjukkan bahwa metode TGT dapat meningkatkan hasil belajar dengan baik. Penerapan pembelajaran TGT dapat dijadikan alternatif bagi guru dalam menyampaikan materi pelajaran, membantu mengaktifkan kemampuan siswa untuk bersosialisasi dengan siswa lain. Siswa terbiasa bekerja sama dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar, sehingga hal ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. TGT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang sangat bermanfaat bagi siswa. Adanya permainan dalam bentuk turnamen akademik yang dilaksanakan pada akhir pokok bahasan, memberikan peluang bagi setiap siswa untuk melakukan yang terbaik bagi kelompoknya, hal ini juga menuntut keaktifan dan partisipasi siswa pada proses pembelajaran. Dengan demikian akan terjadi suatu kompetisi atau pertarungan dalam hal akademik, setiap siswa berlomba-lomba untuk memperoleh hasil belajar yang optimal.

21 komentar:

  1. pak saya benar-benar masih bingung dengan model GUIDED DISCOVERY
    mohon bantuan pak :D terimakasih

    BalasHapus
  2. Guided discovery terjemahannya adalah "penemuan terbimbing" jadi metodenya penemuan tetapi langkah-langkahnya masih dipandu oleh guru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. PAK SAYA BOLEH TANYA ,SAYA MASIH BINGUNG TENTANG TABEL PERHITUNGAN POIN GAME TURNAMEN...UNTUK 4,3 DAN 2 PEMAIN INI PAK...

      TAMPA SERI ITU MAKSUDNYA APA PAK DI TGT TU ?
      SERI NILAI TERTINGGI TU APA PAK DI tgt TU?
      SERI NILAI RENDAH TU APA PAK DI TGT TU?

      Hapus
  3. sekedar tambahan, menurut artikel yang saya baca model ini selain memiliki kekuatan juga memiliki kelemahan, diantaranya:
    * Para siswa di dalam kelas-kelas yang menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional.
    * Meningkatkan perasaan/persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada keberuntungan.
    * TGT meningkatkan harga diri sosial pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka.
    * TGT meningkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal, kompetisi yang lebih sedikit)
    * Keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak.
    * TGT meningkatkan kehadiran siswa di sekolah pada remaja-remaja dengan gangguan emosional, lebih sedikit yang menerima skors atau perlakuan lain.

    Sebuah catatan yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran TGT adalah bahwa nilai kelompok tidaklah mencerminkan nilai individual siswa. Dengan demikian, guru harus merancang alat penilaian khusus untuk mengevaluasi tingkat pencapaian belajar siswa secara individual.

    BalasHapus
  4. sekedar tambahan, menurut artikel lain, kelemahan model tgt ini diantaranya:
    * Para siswa di dalam kelas-kelas yang menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional.
    * Meningkatkan perasaan/persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada keberuntungan.
    * TGT meningkatkan harga diri sosial pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka.
    * TGT meningkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal, kompetisi yang lebih sedikit)
    * Keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak.
    * TGT meningkatkan kehadiran siswa di sekolah pada remaja-remaja dengan gangguan emosional, lebih sedikit yang menerima skors atau perlakuan lain.

    ada sebuah catatan yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran TGT adalah bahwa nilai kelompok tidaklah mencerminkan nilai individual siswa. Dengan demikian, guru harus merancang alat penilaian khusus untuk mengevaluasi tingkat pencapaian belajar siswa secara individual.

    BalasHapus
  5. Banyak ahli berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Pembelajaran kooperatif juga menurut mereka memberikan efek terhadap sikap penerimaan perbedaan antar-individu, baik ras, keragaman budaya, gender, sosial-ekonomi, dll.Selain itu yang terpenting, pembelajaran kooperatif mengajarkan keterampilan bekerja sama dalam kelompok atau teamwork. Keterampilan ini sangat dibutuhkan anak saat nanti lepas ke tengah masyarakat.
    Nah, tipe TGT ini menurut saya adalah salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif yang menarik. Dengan menggunakan tipe ini, siswa dapat bermain sambil belajar sehingga tingkat kejenuhan terhadap materi yang diajarkan bisa terminimalisir.
    So,,belajar itu tidak akan membosankan apabila dijalani dengan santai tapi serius.

    BalasHapus
  6. Model pembelajaran kooperatif mempunyai banyak sekali variasi.
    Salah satu di antaranya adalah seperti artikel di atas yaitu model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournaments). Menurut Saco (2006), dalam TGT siswa memainkan permainan-permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka).
    Permainan dalam TGT dapat berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap siswa, misalnya, akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka tadi dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Turnamen harus memungkinkan semua siswa dari semua tingkat kemampuan (kepandaian) untuk menyumbangkan poin bagi kelompoknya. Prinsipnya, soal sulit untuk anak pintar, dan soal yang lebih mudah untuk anak yang kurang pintar. Hal ini dimaksudkan agar semua anak mempunyai kemungkinan memberi skor bagi kelompoknya. Permainan yang dikemas dalam bentuk turnamen ini dapat berperan sebagai penilaian alternatif atau dapat pula sebagai reviu materi pembelajaran.
    Bagi saya pribadi,, model pembelajaran ini cocok untuk pebelajaran siswa jaman sekarang, mereka saling bekerja sama dan kompak membagi tugas untuk mencapai satu tujuan yaitu keloompoknya menjadi lebih unggul dari pada yang lain......

    BalasHapus
  7. TGT dilakukan dengan jadwal aktivitas siswa,dalam TGT biasanya guru melakukan pembagian tim dan siswa membentuk kelompok. Mereka akan belajar bersama dalam timnya dan akan bertanding dalam turnamen akademik untuk menambah skor timnya dan timyang memperoleh skor tertinggi akan mendapat penghargaan. model pembelajaran TGT ini sangat menarik untuk diterapkan, karena akan memberikan otivasi lebih bagi anak didik dalam semangat memperoleh skor sebanyak-banyaknya..

    BalasHapus
  8. Teams-Games-Tournament is one of the team learning strategies. TGT increased basic skills, students’ achievement, positive interactions between students, acceptance of mainstreamed classmates and self-esteem. Students learn material in class; this can be taught traditionally, in small groups, individually, using activities, etc. The heterogeneous Study Teams review the material, then students compete in academically homogeneous Tournament Teams. Students bring from 2-6 points back from their tournament to their Study Teams. Points are totaled and normalized (for a group size of 4). It is the Study Team which is successful. It should be noted that the Tournament is based on material often for which there is a specific correct answer.

    BalasHapus
  9. Dalam Implementasinya secara teknis Slavin (2008) mengemukakan empat langkah utama dalam pembelajaran dengan teknik TGT yang merupakan siklus regular dari aktivitas pembelajaran, sebagai berikut:

    Step 1: Pengajaran, pada tahap ini guru menyampaikan materi pelajaran.
    Step 2: Belajar Tim, para siswa mengerjakan lembar kegiatan dalam tim mereka untuk menguasai materi.
    Step 3: Turnamen, para siswa memainkan game akademik dalam kemampuan yang homogen, dengan meja turnamen tiga peserta (kompetisi dengan tiga peserta).
    Step 4: Rekognisi Tim, skor tim dihitung berdasarkan skor turnamen anggota tim, dan tim tersebut akan direkognisi apabila mereka berhasil melampaui kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

    BalasHapus
  10. Sedangkan Pelaksanaan games dalam bentuk turnamen dilakukan dengan prosedur, sebagai berikut:

    Guru menentukan nomor urut siswa dan menempatkan siswa pada meja turnamen (3 orang , kemampuan setara). Setiap meja terdapat 1 lembar permainan, 1 lbr jawaban, 1 kotak kartu nomor, 1 lbr skor permainan.
    Siswa mencabut kartu untuk menentukan pembaca I (nomor tertinggi) dan yang lain menjadi penantang I dan II.
    Pembaca I menggocok kartu dan mengambil kartu yang teratas.
    Pembaca I membaca soal sesuai nomor pada kartu dan mencoba menjawabnya. Jika jawaban salah, tidak ada sanksi dan kartu dikembalikan. Jika benar kartu disimpan sebagai bukti skor.
    Jika penantang I dan II memiliki jawaban berbeda, mereka dapat mengajukan jawaban secara bergantian.
    Jika jawaban penantang salah, dia dikenakan denda mengembalikan kartu jawaban yang benar (jika ada).
    Selanjutnya siswa berganti posisi (sesuai urutan) dengan prosedur yang sama.
    Setelah selesai, siswa menghitung kartu dan skor mereka dan diakumulasi dengan semua tim.
    Penghargaan sertifikat, Tim Super untuk kriteria atas, Tim Sangat Baik (kriteria tengah), Tim Baik (kriteria bawah)
    Untuk melanjutkan turnamen, guru dapat melakukan pergeseran tempat siswa berdasarkan prestasi pada meja turnamen.

    BalasHapus
  11. model pembelajaraan TGT ini cocok untuk digunakan oleh siswa karena model pembelajarannya yaitu:1)presentasi=jadi siswa dapat memahami betul tentang materi yang dipresentasinya atau yang dibahas.2)kelompok=kalo belajar itu memang disarankan untuk berkelompok sehingga ada salah satu siswa yang kurang paham mengenai materi yang dibahas maka siswa yang paham dapat memberitahunya sehingga belajarnya tidak terhenti,lain kalo belajar sendirian kalo tidak paham maka belajarnya berhenti jadi kurang manksimal.3)game=biasanya siswa itu mudah jenuh kalo pelajaran/materinya sulit untuk dipahami,sehingga dengan model pembelajaran dengan mengadakan game dapat menghilangkan kejenuhan siswa dalam belajar.4)kompetisi=dengan adanya kompetisi siswa dapat saling bersaing/berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik sehingga siswa dapat termotivasi.
    Namun yang saya sayangkan model pembelajaran ini dalam model pengelompokannya itu dipilih berdasar jenis,akademik,rasa,dan etnik. jadi dapat mengahambat siswa yang minoritas dengan kata lain seperti diatas tadi(jeni,akademik,rasa,dan etnik.

    BalasHapus
  12. menurut artikel lain juga ada beberap catatan , diantaranya :

    Bagi Guru
    Sulitnya pengelompokan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis. Kelemahan ini akan dapat diatasi jika guru yang bertindak sebagai pemegang kendali teliti dalam menentukan pembagian kelompok waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga melewati waktu yang sudah ditetapkan. Kesulitan ini dapat diatasi jika guru mampu menguasai kelas secara menyeluruh.

    Bagi Siswa
    Masih adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada siswa lainnya. Untuk mengatasi kelemahan ini, tugas guru adalah membimbing dengan baik siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi agar dapat dan mampu menularkan pengetahuannya kepada siswa yang lain.Dari pembahasan materi model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) tersebut, maka dapat disimpulkan

    Dengan model pembelajaran TGT ( Teams Games Tournaments ) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Karena siswa dapat belajar lebih rileks, serta dapat menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
    Dengan model pembelajaran TGT ( Teams Games Tournaments ) dapat menambah wawasan tentang berbagai model pembelajaran serta dapat meningkatkan kompetensi guru.

    BalasHapus
  13. model pembelajaran kooperatif salahsatunya adalah TGT. menurut informasi yang saya peroleh ketika mengikuti perkuliahan pembelajaran sains, menurut saya model pembelajaran ini dapat memotivasi siswa karena menciptakan suasana pembelajaran dalam bentuk permainan yang banyak diminati oleh siswa. dalam penerapannya TGT menerapkan seperti permainan kartu dimana ada pemimpin pada tiap-tiap kelompok. cara mainnya adalah peningkatan poin yg didapat dari menjawab pertanyaan dengan benar dan dikurangi jika menjawab salah. bagi siswa yang mendapat poin terbanyak dialah pemenangnya. dengan sistem permainan dalam pembelajaran siswa akan termotivasi dan tidak merasa tertekan dalam suasana belajar yg membosankan . penerapan model pembelajaran kooperatif dapat divariasi dengan pembelajaran yg lain seperti STAD dan JIGSAW.

    posting blog ini sangat membantu untuk membagikan informasi tentang model pembelajran kooperatif. isi dari posting ini sangat baik dan jelas sehingga tidak membingungkan. terima kasih atas infonya..

    BalasHapus
  14. setelah membaca artikel ini beserta komen yang ada di atas sangat membantu saya dalam memahami tahap-tahap dalam pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). selama ini saya rancu antara hak yang dimiliki penantang pertama dan kedua serta bagaimana konsep dari turnamennya sendiri.

    posting blog ini sangat membantu orang-orang yang bergelut di dunia pendidikan agar bisa memodifikasi model pembelajarannya sehingga pembelajaran menjadi bermakna.

    BalasHapus
  15. artikel pada blog ini sangat bermanfaat untuk para guru serta khususnya mahasiswa yang berkelut didunia pendidikan yang kelak akan terjun didunia guru.....
    dlam artikel ini saya menjadi lebih mengerti lebih dalam tentang model pembelajaran TGT....,sebelumnya saya masih bingung dengan model TGT ini ketika pada mata kuliah pembelajaran sains,namun setelah membaca posting ini,saya menjadi semakin lebih jelas dengan model TGT ini,terima kasih atas postingannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  16. Pada dasarnya TGT merupakan sebuah pembelajaran kooperatif yang berupaya untuk menggabungkan penyampaian informasi baru dengan metode games dan tournament. Model pembelajaran seperti ini harus terus dikembangkan dalam pembelajaran khusunya di bidang IPA agar pembelajaran IPA menjadi lebih menarik untuk disajikan dan menimbulkan motivasi siswa untuk meningkatkan pengetahuan

    BalasHapus
  17. Secara umum TGT memang suatu strategi yang dapat menimbulkan motivasi siswa, namun dalam pelaksanaannya guru harus dapat menghandle siswa saat tahapan game agar siswa tidak bermain curang suhingga tujuan pembelajaran dapat benar-benar tecapai.

    BalasHapus
  18. pak maaf saya bingung sekali untuk masalah perhitungan skor dan point saat bermain game saya ga paham dengan buku robert slavin. bagaimana caramendapatkan point dan bagaiaman cara mendapatkan skor.

    BalasHapus
  19. termakasih pak. Sangat membantu dalam pengerjaan tugas :)

    BalasHapus